Jumat, 04 Mei 2012

ASKEP JIWA


KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha ESa, Karen atas limpahn rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari makalah ini adalah “ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. DM DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG BUKIT BARISAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA MEDAN”

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, antara lain :
1.    Ibu Zr. Rosita Saragih, SKM selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Darma Agung
2.    Zulkarnain nasution Spd selaku dosen pembimbing
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.






Medan, Mei 2011

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental psikiatrik dikalangan masyarakat saat ini dan yang akan terus menjadi masalah sekaligus menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan khususnya komunikasi profesi keperawatan.
Ketidakmampuan individu dalam mengahdapi berbagai masalah social dalam kehidupan menimbulkan msalah kejiwaan yang lebih mengacu pada kerusakan interaksi social menarik diri yaitu seseorang cenderung menyendiri dan sering melamun. Pada dasarnya kemampuan hubungan social berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang individu mulai dari bayi sampai dengan dewasa lanjut, untuk mengembangkan hubungan social positif. Setiap tugas perkembangan sepanjang daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses kemampuan berperan serta proses hubungan diawali dengan kemampuan saling tergantung. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai kemampuan profesi dalam memberikan asuhan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Untuk itu perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik yaitu proses keperawatan.
Menurut penelitian WHO, jika provelensi gangguan jiwa di atas 100 jiwa pertahun penduduk dunia, maka berarti Indonesia mencapai 264 orang per 1000 penduduk yang merupakan anggaota keluarga. Data hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995), artinya 2,6 kali lebih tinggi dari ketentuan WHO. Ini adalah sesuatu yang sangat serius .
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tentang gangguan jiwa dengan masalah utama kerusakan interaksi social menarik diri.
 
B.       Tujuan Penulisan
1.         Tujuan Umum
-       Untuk memperoleh gambaran umum mengenai skizoprenia paranoid/isolasi social menarik diri) dan perawatannya
-       Untuk mengembangkan buah pikiran yang ada manfaatnya bagi masyarakat
-       Untuk menambahkan ilmu pengetahuan dan melihat secara langsung atau mengaplikasikan teori psikiatri yang diperoleh dari bangku perkuliahan melalui praktek lapangan di rumah sakit jiwa pusat Medan atau sekaligus di dalamnya melatih pembuatan studi kasus ini

2.         Tujuan Khusus
-       Membantu penderita agar dapat memenuhi kebutuhan kesehatannya dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal
-       Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi penulis dalam melaksanakan proses keperawatan


C.      Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan cara :
1.        Observasi
Penulis mengadakan penelitan dan pengawasan langsung terhadap penderita skizoprenia tipe paranoid/isolas social menarik diri).
2.        Wawancara
Dalam wawancara ini penulis mengadakan :
-       Auto anamnese    : Tanya jawab langsung pada pasien yang bersangkutan
-       Auto anamneses  : Mengadakan Tanya jawab dengan keluarga pasien
3.        Rekomendasi
Diperoleh dari perawatan dan status pasien
4.        Perpustakaan
Penulis menggunakan buku-buku atau diktat berhubungan dengan penderita skizoprenia paranoid (Isolasi social : Menarik diri) dan perawatannya.

D.      Sistematika Penulisan
Penulisan makalh ini disusun secara sistematif yang terdiri dari V bab, yaitu :
Bab 1       Pendahuluan
Terdiri atas : latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan
Bab II      Landasan Teoritis
                 Terdiri atas :
a.         Tinjauan Teoritis medis
-       Definisi
-       Faktor predisposisi
-       Rentang respon keperawatan
b.         Tinjauan teoritis keperawatan
-       Definisi, karakteristik, prilaku, masalah keperawatan, tujuan tindakan keparawatan, evaluasi
Bab III     Tinjauan Kasus
Bab IV     Pembahasan
BabV       Kesimpulan dan Saran

Daftar Pustaka




BAB II
LANDASAN TEORITIS

A.      Tinjauan Teoritis Medis
1.        Defenisi
Kerusakan interaksi sosial merupakan kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif atau mengancam, kelainan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu beradaptasi dalam suatu kuantitas yang tidak cukup/berlebihan kualitas interaksi sosial yang tidak efektif. (Marry C.Townsand, Edisi V, 1998, Hal. 1927)
Menarik diri adalah reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari sumber scresor. Misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi, gas beracun dan lain-lain. Sedangkan reaksi psikologis individu menunjukkan prilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat sering disertai rasa takut dan bermusuhan. (Rasmus, 2001, Hal 18)
Menarik diri adalah usaha menghindari interaksi dengan orang lain individu dengan orang lain. Individu merasa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi perasaan, fikiran, prestasi atau kegagalannya. Orang lain yang di manifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan sanggup membagi pengalaman dengan orang lain. (Standart Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi Pertama, Bandung 1996, Hal 47)

2.        Faktor Predisposisi
Adapun factor prespitasi adalah membagi atas 2, yaitu :
A.      Faktor Prestasi
Adapun faktor pencetus terdiri dari 4 sumber utama yang dapat menentukan alam perasaan adalah:
·      Kehilangan ketertarikan yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk kehilangan cinta seseorang. Fungsi fisik, kedudukan atau harga diri, karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka konsep persepsi lain merupakan hal yang sangat penting.
·      Peritiwa besar dalam kehidupan, sering dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
·      Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi depresi terutama pada wanita
·      Perubahan fisiologis di akibatkan oleh obat-obatan berbagai penyakit fisik seperti infeksi, meoplasma dan gangguan keseimbangan metabolik dapat mencetus gangguan alam perasaan. (Gail W.Stuart- dkk. Edisi III. 1998)
Faktor Pendukung
·      Faktor genetik dianggap mempunyai transmin gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
·      Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan pada diri sendiri.
·      Teori kehilangan objek merasakan kepada perpisahan traumatik individu dengar benda atau yang sampai sangat berarti.
·      Teori organisasi kepribadian mengenai bagian konsep yang negatif dan harga ­diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan penilaian seseorang terhadap dirinya.
·      Metode kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri dunia seseorang di masa depan seseorang.
·      Metode ketidak berdayaan yang dipelajari menunjukkan bahwa semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mampu mengendalikan terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya. Oleh karena itu dia menolak respon dan adaktif.
·      Model perilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial yang mengasumsikan keinginan penyebab depresi terlacak pada kerangka keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.
·      Metode biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi selama masa depresi, termasuk depresi katakoloni, disfungsi endoktrim dan variasi periodik serta irama biologis.
3.        Rentang Respon Sosial
Respon Adatif                                                           Respon Maladaftif

-       Menyendiri
-       Otonomi
-       Bekerjasama
-       Inderdependen
-        Merasa sendiri
-        Manipulasi
-        Tergantung
-        Curiga
-          Merasa sunyi
-          Epseploitasi
-          Menarik diri
-          Paranoid
Keterangan :
·      Respon adaktif
Yaitu respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial kebudayaan secara umum yang berlalu di masyarakat. Dimana individu dalam menyelesaikan masalahnya masih dalam batas norma.
*   Menyendiri
Respon yang masih dibutuhkan individu untuk menuangkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya
*   Otonom
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide pelaksanaan perasaan dalam hubungan sosial.
*   Bekerjasama
Suatu kondisi hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
*   Interdependen
Saling ketergantungan antar individu dengan yang lain dalam interaksi sosial dalam membina hubungan independen.

·      Respon mal adaktif
Adalah respon yang diberikan individu dalam menyelesaikan masalahnya, menyimpang dari norma-norma sosial kebudayaan suatu tempat.
*   Menarik diri
Terjadi apabila individu menemukan kesakitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
*   Manipulasi
Individu menganggap orang lain sebagai objek individu serta tak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
*   Tergantung
Individu gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuan untuk mengembalikan rasa percaya diri.
*   Curiga
Bila individu gagal mengembalikan rasa percaya diri dengan orang lain
4.        Tanda dan Gejala
Ø  Apatis, ekpresi sedih, efek tumpul
Ø  Komunikasi kurang, klien tidak tampak berkomunikasi dengan pasien lain atau perawat
Ø  Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
Ø  Berdiam di kamar
Ø  Menolak berhubungan dengan orang lain, pasien memutuskan atau langsung pergi jika diajak bicara
Ø  Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, seperti : perawatan diri dan aktivitas sehari-hari
(Budi Anna Keliat, SKP.M.SPP.SC.CS. Proses Keperawatan Jiwa)

5.        Etiologi
Ø  Teori biologik dan genetik
Ø  Hipotesis neurotransmitter
Ø  Pencetus psikososial
(Buku Saku Psikiatri, PenerbitBuku Kedokteran, EGC, hal)
6.        Karakteristik
a.         Gangguan pola : tidak nafsu makan atau makan berlebihan
b.         Berat badan menurun atau meningkat secara drastis
c.         Kemunduran kesehatan fisik
d.        Tinggal di tempat tidur dalam waktu lama
e.         Banyak tidur siang
f.          Kurang bergairah
g.         Tidak mempedulikan lingkungan
h.         Immobilitas
i.           Mondar-mandir/sikap menantang, melakukan kegiatan berulang-ulang
j.           Keinginan seksual menurun
(Standar Pelayanan Dari Asuhan Keperawatan Jiwa, hal)
7.        Pengobatan
1.      Farmakoterapi
2.      Terapi fisik ECT (Elektro Convusi Teraphy)
3.      Terapi psikologi
4.      Terapi social
5.      Bila serangan pertama
-       Membangkitkan dan diagnosis
-       Pemeriksaan psikologi
-       Pemeriksaan kimia rutin, skrinning, roksikologi, VDRL dan uji fungsi tiroid
-       Elektroensefologram (untuk menyingkirkan epilepsy logus temperralit, neoplasma)
(Buku saku psiatri, penerbit buku kedokteran EGC, Hal)

B.       Landasan Teoritis Keperawatan
1.      Pengkajian
           Tiap individu mempunyai potensi untuk berlibat berhubungan social sebagai tingkat hubungan yaitu hubungan intim dan hubungan saling bergantungan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari pada pengkajian klien-klien sulit diajak bicara, pendiam, suka melamun dan menyendiri di sudut-sudut.
           Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan ketidakpuasan individu terhadap psien hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran peserta respon lingkungan yang negatif kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya pada orang lain) (Budi Anna Keliat S.Kep, M.App, BSC, 1995)



2.      Diagnosa Keperawatan
·           Isolasi sosial menarik diri
·           Harga diri rendah
·           Koping keluarga efektif
·           Gangguan komunikasi verbal
·           Introleransi aktifitas
·           Defisit perawatan diri
·           Resiko tinggi prilaku kekerasan
·           Perubahan persepsi
3.      Tujuan Keperawatan/Implementasi
·           Klien dapat meningkatkan harga diri
·           Melakukan kegiatan asuhan diri
·           Merasa puas berhubungan dengan orang lain dan mampu menggunakan alternative untuk menggantikan prilaku menarik diri
·           Menggunakan koping yang efektif
·           Meningkatkan kemampuan melakukan komunikasi
·           Mengadakan hubungan dengan lingkungan
4.      Intervensi
*        Bina hubungan saling percaya
*        Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka
*        Kenal dan dukung kelebihan pasien
*        Bantu klien mengurangi ansietas ketika berhubungan interpersonal
5.      Tindakan Keperawatan / Implementasi
a.         Psikotherapiutik
1.      Bina hubungan saling percaya
-     Buat kontrak dengan pasien, perkenalan, tujuan dan waktu interaksi
-     Ajak klien berbicara dengan memanggil nama panggilan pasien
-     Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi pasien tidak perlu dibertahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan
2.      Berkomunikasi dengan pasien secara jujur, jelas dan terbuka.
-     Bicara dengan pasien secara jelas dan terbuka dengan istilah yang sederhana
-     Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, singkat, jelas dan teratur
-     Bersama pasien menilai manfaat pembicaraannya dengan perawat
-     Tunjukkan sikap empati dan beri pasien kesempatan untuk mengungkapan perasaan
3.        Kenal dan dukung kelebihan klien
-     Tanya cara-cara menyelesaikan masalah (koping) yang bisa digunakan klien
-     Diskusi bersama pasien tentang koping yang konstruktif
-     Dukung koping pasien yang konstruktif
-     Ajarkan pada pasien untuk menggunakan interpersonal

4.        Bantu klien mengurangi ansietas
-     Batasi pengunjung pada awal terapi
-     Lakukan interaksi pada pasien sesering mungkin
-     Temani pasien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
-     Libatkan dalam aktivitas kelompok
b.        Pendidikan Kesehatan
1.        Jelaskan pada pasien cara mengungkapkan perasaan
2.        Bicarakan dengan pasien peristiwa yang menyebabkan menarik diri
3.        Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga agar tetap mengadakan hubungan
4.        Anjurkan kepada keluarga mengikutsertakan pasien dalam kegiatan di lingkungan masyarakat
c.         Kegiatan Kehidupan Sehari hari
1.        Bantu pasien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri
2.        Bimbing pasien berpakaian yang rapi
3.        Batasi kesempatan tidur siang
4.        Sediakan sarana informasi dan hiburan

d.        Terapi Somatik
1.        Beri obat sesuai dengan prinsip 5 benar (benar orang, obat, dosis, waktu dan guna)
2.        Pantau reaksi obat pada pasien
3.        Catat pemberian obat yang telah dilaksanakan
4.        Pastikan obat apakah telah diminum
e.    Lingkungan therapeutik
·           Lingkungan fisik
-     Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan pasien maupun orang lain
-     Cegah pasien tidak berada dalam ruangan sendiri dalam jangka waktu lama
-     Beri rangsangan sesuai seperti gambar masuk dan gambar hiasan
·           Lingkungan Sosial
-     Fasilitasi pasien untuk berperan serta terapi kelompok ekupasi serta terapi keluarga
-     Libatkan pasien dalam berinteraksi dengan klien lain dan perawat secara bertahap
f.     Evaluasi
·           Pasien dapat menggunakan koping yang efektif dalam menyelesaikan masalah
·           Harga diri pasien meningkat
·           Pasien dapat melakukan interpersonal dengan orang lain
·           Pasien dapat melakukan kegiatan mandiri
·           Persiapan berinisiatif untuk berkomunikasi/melakukan komunikasi secara verbal.




















BAB II
TINJAUAN KASUS

Ruang Rawat            : Bukit Barisan                                              Tanggal Dirawat :

I.       IDENTITAS KLIEN
Nama                                 : Tn. DM
Umur                                 : 25 Tahun
Tanggal Pengkajian           :
No. RM                             : 0.57.20

II.    ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
-       Marah-marah
-       Bicara sendiri
-       Sulit tidur
-       Mondar mandir
-       Sulit diajak bicara

III.

Ö
Faktor Predisposisi
  1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu?             Ya                Tidak


  2. Ö
    Pengobatan sebelumnya ?      
Berhasil           Kurang Berhasil          Tidak berhasil
  1. Trauma                                    Pelaku/usia          Korban/usia         Saksi/usia
Aniaya fisik                             (        )   (       )      (       )    (       )     (      )   (     )
Aniaya seksual                        (        )   (       )      (       )    (       )     (      )   (     )
Pendidikan                              (        )   (       )      (       )    (       )     (      )   (     )
Kekerasan dalam keluarga      (        )   (       )      (       )    (       )     (      )   (     )
Jelaskan No. 1, 2 , 3 :    Os sudah mengalami hal di atas sejak 3 tahun yang lalu dan dirawat/dibawa berobat jalan dengan berobat alternatif
Masalah Keperawatan : Koping individu tak efektif

  1. Ö
    Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
       Ya                               Tidak 
Jika “Ya”
Hubungan keluarga                 Gejala              Riwayat pengobatan/perawatan

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah
5.      Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Masalah keperawatan : Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah

IV. Fisik
1. Tanda vital
TD     : 100/60 mmHg
N       : 80 x/i
S        : 36ºC
P        : 16 x/i
2. Ukur
P        : 150 cm


BB    : 54 kg
3.  Keluhan fisik            :             Ya                   Tidak 

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah

IV Psikososial
  1. Genogram






Keterangan :               
                        : +
: ♂
: ♀                  
: OS
Jelaskan : Keluarga tidak ada yang mengalami gangguan jiwa seperti OS
Masalah Keperawatan             : Tidak ada masalah


  1. Konsep Diri
a. Gambaran Diri      :     OS menyukai semua hal yang ada pada dirinya
b. Harga diri             :     OS merasa tidak dihargai oleh keluarga dan teman-temannya
c. Ideal Diri              :     OS ingin cepat pulang
d. Identitas Diri       :     OS adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara
e. Peran                    :     OS merasa perannya terganggu, baik sebagai seorang anak di rumah ataupun sebagai warga masyarakat di lingkungannya
Masalah Keperawatan    : Harga Diri Rendah
  1. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti  : Keluarga
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat
    Terganggu
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Merasa tak dianggap oleh orang lain
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri
  1. Spiritual
a.  Nilai dan keyakinan :
OS beragama Kristen dan percaya keapda Tuhan Yang Maha Esa
b. Kegiatan ibadah :
OS mengatakan selama di rumah sakit tidak pernah beribadat

Jelaskan   : Ada permasalahan dalam pemenuhan kebutuahn spiritual, tidak dapat berkonsentrasi dalam beribadah
Masalah Keperawatan : Defisit spiritual
V. Status Mental
1. Penampilan
Ö
              Tidak rapi                  Penggunaan pakaian                 Cara berpakaian
                                                Tidak sesuai                              Seperti biasanya
     Jelaskan : Penampilan klien rapi, rambut pendek, kuku bersih dan cara berpakaian biasa
Masalah Keperawatan             : Tidak ada
2. Pembicaraan
             Cepat                 Keras                Gagap                Inkoheren
Ö
 Apatis                 Lambat            Membisu          Tidak mampu memulai                                                                                     pembicaraan
Ö
3. Aktivitas Motorik
             Lesu                 Tegang              Gelisah             Agitasi
Tegang             Grimesen           Tremor             Kompulsif
Ö
4. Alam Perasaan
             Sedih               Ketakutan                        Putus asa               Khawatir
       Gembira berlebihan
Jelaskan     :        OS dengan keadaan tak rapi, ranmbut acak-acakan, jarang mandi, kurang bersih (gigi + kuku panjang)
Masalah Keperawatan             : Defisit perawatan diri
5.
Ö
 Efek
             Datar                 Tumpul             Labil                  Tidak Labil
Jelaskan     :        ekspresi wajah datar, lebih banyak diam dan menjawab jika di Tanya saja
Masalah Keperawatan             :
6. Interaksi Selama Wawancara
             Bermusuhan                           Tidak kooperatif           Mudah tersinggung
Ö
 Kontak Mata Kurang             Depensif                         Curiga
Jelaskan   : Selama bicara tidak kooperatif, lesu, cengeng
Masalah Keperawatan             : Gangguan interaksi sosial
7. Persepsi / halusinasi
            Pendengaran                        Penglihatan              Perabaan                     
Pengecapan               Penghidung                         
Jelaskan     :
Masalah Keperawatan             : Tidak ada
8. Proses Pikir
            Sirkumstansial                   Tangensial                   Kehilangan Asosiasi
Ö
Flight Of  Idiea                  Blokcing                    Pengeluaran  pembicaraan / persevatasi
Jelaskan     : Os hanyadiam saat ditanya, dan hanya menjawab sebatas apa yang ditanyakan
Masalah Keperawatan             : Gangguan proses pikir

9. Isi Pikir
            Obsesi                            Fobia                              Hipokondria
Defersonalisasi                Ide yang terkait             Pikiran magis
         Waham
             Agama               Somatik                 Kebesaran              Curiga
Nihilistik             Sisip Pikir             Siap Pikir                Kontrol Pikir         
Jelaskan     :
Masalah Keperawatan             : Tidak ada masalah
10. 
Ö
Tingkat Kesadaran
              Composmetis           Bingung                Sedasi              Stupor 
Ö
      Disorientasi
   Waktu                Tempat            Orang
Jelaskan     : OS tak mampu mengingat waktu/hari yang ditanyakan
Masalah Keperawatan             :
11.  Memori
              Gangguan daya ingat                           Gangguan daya ingat
              Jangka panjang                                      Jangka pendek  
Masalah Keperawatan             : Tidak ada masalah
12.  Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
          Mudah beralih                     Tidak mampu                Tidak mampu
                                                       berkonsentrasi               berhitung sederhana
Masalah Keperawatan             : Tidak ada masalah

13.  Kemampuan Penilaian
                   Gangguan ringan                    Gangguan bermakna
Masalah Keperawatan             : Tidak ada masalah
14.  Daya Tilik Diri
Mengingkari penyakit yang diderita
 Menyalahkan hal-hal di luar dirinya

VI. Kebutuhan Persiapan Pulang
  1. Makan
               Bantuan minimal                     Bantuan total    
Jelaskan                       :
Masalah Kepeawatan  :
  1. BAB / BAK
                Bantuan minimal                    Bantuan total 
Jelaskan                       :
Masalah Kepeawatan  :          
  1. Mandi
Bantuan minimal                 Bantuan total 
Jelaskan                       :
Masalah Kepeawatan  :          



  1. Berpakaian / berhias
                Bantuan minimal                    Bantuan total  
Jelaskan                       :
Masalah Kepeawatan  :
  1. Istirahat dan tidur
                Tidur siang lama            14.00 s/d 16.00
                Tidur malam lama         21.00 s/d 05.00
                Aktivitas sebelum / sesudah tidur                    
  1.  Penggunaan Obat
                Bantuan minimal                    Bantuan total  
Jelaskan                       :
Masalah Kepeawatan  :
  1. Pemeliharaan Kesehatan
Ya                   Tidak

Perawatan Lanjutan
Sistem Pendukung
  1. Aktivitas didalam rumah
Ya                   Tidak

Mempersiapkan makanan
Menjaga kerapian rumah
Mencuci pakaian
Pengaturan Keuangan

  1. Aktivitas diluar rumah
Ya                   Tidak

Belanja
Transportasi

VII. Mekanisme Koping
Adaktif                                                              Maladaktif
Bicara pada orang lain                                    Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah                      Reaksi lambat/berlebihan
Tehnik relokasi                                                Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif                                       Menghindar
Olah raga                                                         Mencederai diri
Lainnya                                                           Lainnya

VIII. Masalah Psikososial dan Lingkungan
a.         Masalah dan dukungan kelompok (spesifik)
OS selalu merasa drinya tak berharga
b.        Masalah berhubungan dengan lingkungan (spesifik)
OS selalu minder jika bergabung/interaksi dengan lingkungan
c.         Masalah dengan perumahan (spesifik)
Tak ada masalah
d.        Masalah dengan pelayanan kesehatan (spesifik)

e.         Masalah lainnya, uraikan
Tidak ada masalah

IX. Pengetahuan Kurang Tentang                         

Penyakit Jiwa                                                  Sistem Pendukung

Faktor Presipitasi                                            Penyakit Fisik

Koping                                                            Obat-obatan
                        Lainnya                                              
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

X. Aspek Medik
Diagnosa Medik    :

Terapi Medik         :

Masalah Keperawatan
1.      Kerusakan komunikasi verbal
2.      Menarik diri
3.      Harga diri rendah
4.      Defisit perawatan diri
5.      Intoletansi aktiftas
6.      Resiko tinggi kekerasan
7.      Perubahan sensori persepsi
3.9       Pohon Masalah

Koping Keluarga Inefektif : Ketidak mampuan keluarga merawat klien di rumah
Gangguan Komunikasi Verbal
Isolasi sosial : menarik diri
Gangguan konsep diri :
Harga Diri Rendah
Regiment therapeutik
inefektif
Intoleransi Aktivitas
inefektif
Defisit Perawatan Diri
 

























ANALISA DATA
No
Data
Masalah
1
DS

DO
:  Klien mengatakan malas bergaul dan berbicara
:  Klien tampak duduk ditempat tidur
Kerusakan komunikasi verbal
2
DS

DO
:  Klien mengatakan malas bergaul dan lebih sering menyendiri
:  - Klien jarang kontak mata dengan perawat saat berbicara
Kerusakan interaksi social
menark diri
3
DS


Do
:  Klien mengatakan bahwa ia dijauhi oleh keluarganya karena merasa tidak berguna bag orang lain
:  Klien selalu menyendiri dan sedih
Gangguan harga diri rendah
4
DS


DO
:  Klien mengatakan bahwa ia rajin mandi, hanya saja bajunya kotor dan asal mandi saja
:  Kuku klien panjang, rambut acak-acakan
Defisit Perawatan Diri





RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama               : Tn. DM
Ruangan          : Bukit Barisan
No
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Rasional
Implementasi
Evaluasi
Tujuan
Kriteria Hasil
Tindakan Keperawatan
1
Kerusakan komunkasi verbal b/d isolasi sosial menarik diri
Tujuan umum :
Klien dapat berkomunikasi dengan baik pada orang lain

TUK :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya








Klien dapat mengungkapkan perasaannya dan keadaan saat ini secara verbal








1.    Bina hubungan saling percaya :
-       Salam perkenalan diri
-       Ciptakan lingkungan yang tenang
-       Jelaskan tujuan interaksi
-       Buat kontraksi yang jelas
-       Tepat waktu




2.    Dorong dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya







Hubungan saling percaya sebagai dasar utama interaksi yang penting















Ungkapkan perasaan klien kepada perawat sebagai bukti bahwa klien mempunyai perawat, rasa empati akan meningkatkan hubungan saling percaya







1.    Membina hubungan saling percaya :
-       Memberi salam perkenalan diri
-       Menjelaskan tujuan interaksi
-       Menciptakan lingkungan yang tenang
-       Membuat kontraksi yang jelas





2.  Mendorong dan memberi kesempatan untuk mengungkap-kan perasaannya mendengarkan klien dengan empati







S :  Klien sudah mampu berinteraksi
O : Klien tampak tersenyum ramah
A  : Masalah teratasi sebagian
P  : Rencana tindakan dilanjutkan


2.      Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri

Setelah dilakukan 2-3 kali pertemuan klien dapat menyebutkan  sebagian penyebab menarik diri

1.    Kaji pengetahuan klien tentang perihal menarik diri




2.    Beri kesempatan pada klien utuk mengungkapkan perasaannya penyebab
menari diri
3.    Diskusikan bersama klien tentang perihak menarik diri



4.    Beri pujian terhadap keamanan klien mengungkapn persaannya
1.     Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang menarik diri sehingga perawata dapat merencanakan tindakan selanjutnya
2.     Untuk mengetahui alasan klien menarik diri




3.     Meningkatkan fungsi pengetahuan mencari pemecahan masalah bersama klien
4.     Meningkatkan harga diri klien sehingga berani bergaul  dengan lingkungan
1.    Mengkaji pengetahuan klien tentang perihal menarik diri





2.    Memberi kesempatan pada klien untuk mengungkap-kan perasaannya penyebab menarik diri
3.    Mendiskusi-kan bersama klien tentang perihal menarik diri



4.    Memberi pujian terhadap keamanan klien mengungkap-kan
S  :   Klien sudah mampu mengungkapkan hatinya
O :   Klien tampak tenang, ramah
A :   Masalah  Teratasi
P :    Rencana dilanjutkan



3.      Klien dapat mengetahui keuntungan berhubungan dengan orang lain

Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain

1.    Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
2.    Dorong klien untuk menyebutkan kembali manfaat hubungan dengan ornag lain
3.    Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam berhubungan dengan oranglain
1.     Mengungkapkan pengetahuan klien dengan perlunya berhubungan dengan orang lain

2.     Untuk mengetahui tingkat pemahaman klien terhadap informasi yang telah diberikan


3.     Memberi pujian dengan positif dapat meningkatkan harga diri

1.  Mendiskusikan manfaat hubungan dengan orang lain



2.  Mendorong klien untuk menyebutkan kembali manfaat berhubungan dengan orang lain



3.  Memberikan pujian terhadap kemampuan klien dalam berhubungan dengan orang lain
S : Klien mampu menyatakan manfaat bergaul dengan orang lain
O : Klien tampak tersenyum, kontak mata baik
A : Klien mampu mengungkap-kan manfaat bergaul bantuan perawat. Tindakan berhasil



4.      Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap
Klien dapat menyebutkan dengan cara berhubungan dengan orang lain
1.    Dorong klien untuk menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain
2.    Dorong dan membantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap
3.    Libatkan klien dalam kegiatan ADL diruangan


4.    Reforcement positif atas kebersihan yang dicapai
1.   Untuk mengetahui pengalaman klien terhadap informasi yang telah diberikan


2.   Klien mungkin dapat mengalami perasaan tidak nyaman malu dalam berhubungan

3.   Membantu klien dalam mempertahankan hubungan interpersonal
4.   Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri
1. Mendorong klien untuk menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain



2. Mendorong dan membantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap


3. Melibatkan klien dalam kegiatan ADL diruangan


4. Mereinforcemen positif atas keberhasilan yang dicapai

S : Klien mampu menyatakan manfaat bergaul dengan orang lain
O : Klien tampak tersenyum, kontak mata baik
A : Klien mampu mengungkap-kan manfaat bergaul dengan orang lain
2
Kerusakan interaksi social menarik diri b/d konsep diri, harga diri rendah
Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain
Tujuan Khusus :
1.    Klien dapat membina hubungan saling percaya





Klien dapat membina hubungan saling percaya setelah 2 – 3 kali pertemuan





1.    Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

2.    Jelaskan tujuan pertemuan dan ciptakan lingkungan yang nyaman





1.    Dengan melakukan hubungan dengan klien maka klien tercipta suasana baik





1.    Menyapa klien dengan ramah dan baik verbal maupun non verbal


2.    Jelaskan tujuan pertemuan dan ciptakan lingkungan yang nyaman





S : Klien mampu menjalani hubungan dengan orang lain
O : Klien tampak tersenyum ada kontak mata
A : Klien mampu berkomunikasi dengan temannya




2.    Klien dapat memperluas kesadaran diri
1.    Klien dapat menyebutkan kemampuan yang ada pada dirinya setelah 2-3 kali pertemuan
1.    Diskusikan dengan klien kelebihan yang dimiliki klien

2.    Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien
3.    Kesempatan untuk klien melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
1.    Hal-hal yang positif yang masih dimiliki klien dan memberi harapan pada klien
2.    Mempertahankan klien agar tetap realitas




3.    Menghargai klien dengan keputusn yang telah dipilihnya
1.      Diskusikan dengan klien kelebihan yang dimiliki klien

2.      Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien


3.      Kesempatan untuk klien melakukan kegiatan yang telah dipilihnya


S : Oh ya ya suster
O : Klien bicara keras
A : Klien mampu akan drinya
P : TUK sudah tercapai


3.    Klien dapat menyelidiki dirinya
Klien cita-cita serta harapannya sesuai dengan kesempurnaannya
1.    Diskusikan dengan klien ideal dirinya dan harapan di RSJ rencana klien setelah keluar dan apa cita-cita yang ingin dicapai klien
2.    Membantu klien mengembangkan antara keinginan dan kemampuannya
3.    Beri kesempatan pada klien untuk berhasil
1.    Untuk mengetahui sejauh mana realita dan harapan klien






2.    Membantu klien membentuk harapan dan realitas

3.    Meningkatkan ras percaya klien
1.      Diskusikan dengan klien ideal dirinya dan harapan di RSJ rencana klien setelah keluar dan apa cita-cita yang ingin dicapai klien
2.      Membantu klien mengembangkan antara keinginan dan kemampuan-nya

3.      Beri kesempatan pada klien untuk berhasil
S : KLien mampu mengutarakan keinginannya
O : Klien ingin bertemu ibu dan adinya
A : Masalah teratasi sebagian
P : rencana keperawatan dilanjutkan


4.    Klien dapat membuat rencana yang realita
Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai
1.    Bantu klien merumuskan tujuannya yang ingin dicapai
2.    Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien
3.    Kesempatan untuk klien melakukan kegiatan yang telah dipilihnya



1.    Agar klien dapat tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya
2.    Mempertahankan klien agar tetap realitas
3.    Menghargai klien dengan keputusan yang telah dipilihnya
1.      Bantu klien merumuskan tujuannya yang inin dicapai
2.      Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien
3.      Kesempatan untuk klien melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
S : Klien dapat mengungkap-kan keinginanya
O : Klien tampak tenang
A : Masalah teratasi
3
Defist perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas
Tujuan Umum :
Kliem mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan mendemonstrasikan suatu keinginan untuk melakukannya
Tujuan Khusus :
1.    Klien dapat mengatakan keinginan untuk kehidupan sehari-hari











Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri











1.    Dukung klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan klien











1.    Kebersihan menampilkan dalam melakukan aktivitas











1.      Dukung klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan klien



2.    Klien dapat melakukan atau mampu untuk terlibat dalam perawatan diri
Setelah dilakukan pertemuan 2-3 kali klien dapat melakukan perawatan diri dengan ketentuan minimal
Dukungan kemandirian klien, tetapi beri bantuan saat klien tidak mampu melakukan kegiatan itu
Keamanan dan kenyamanan klien merupakan prioritas dalam keperawatan
Dukungan kemandirian klien, tetapi beri bantuan saat klien tidak mampu melakukan kegiatan itu



3.    Dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai
Setelah dilakukan pertemuan 2-3 kali klien dapat mengungkapkan dirinya
             
Renforcement positif akan meningkatkan harga diri




4.    Klien dapat mealkukan usaha kebersihan secara bertahap
Setelah 2 kali pertemuan klien dapat melakukan kebersihan dirinya
1.    Kaji ulang kemampuan klien dalam perawatan diri



2.    Bimbing klien dan beri pujian
1.    Pengkajian yang baik membantu perawat dalam perencanaan tindakan keperawatan

2.    Pendemonstrasian berguna untuk membantu klien mampu mempraktekkan secara mandiri
1.      Kaji ulang kemampuan klien dalam perawatan diri



2.      Bimbing klien dan beri pujian
S : Klien bersih
O : Klien tersenyum
A : Tujuan khusus tercapai
P : Pertahankan tujuan khusus
4
Regiment terapeutik berhubungan dengan koping keluarga inefektif
Tujuan umum :
Tidak terjadi koping keluarga inefektif
Tujuan Khusus :
1.    Keluarga mampu menangani masalah yang dialami klien





Keluarga dapat mengintifikasi masalah yang dihadapi klien





Bina hubungan saling percaya dengan keluarga dan anggota keluarga





1.    Hubungan saling percaya dengan keluarga dan anggota keluarga lainnya merupakan dasar interaksi selanjutnya






Bina hubungan saling percaya dengan keluarga dan anggota keluarga





S : Klien bersih
O : Klien tersenyum
A : Tujuan khusus tercapai
P : Pertahankan tujuan khusus


2.    Keluarga klien mampu menerima keadaan klien
Keluarga klien menrima keadaan apa adanya
1.    Diskusikan dengan keluarga tentang alternative koping adaptif atau gambaran pendukung dalam menangani misi keperawatan yang dianjurkan
2.    Diskusikan dengan keluarga tentang yang selama ini dilakukan klien
1.   Menggunakan wawasan keluarga untuk mengetahui cara lain dalam menangani klien yang sakit sebagai alternative untuk keluarga yang sakit


2.   Tindakan pengetahuan keluarga dalam memberikan perawatan terhadap klien


1.    Diskusikan dengan keluarga tentang alternative koping adaptif atau gambaran pendukung dalam menangani misi keperawatan yang dianjurkan

2.    Diskusikan dengan keluarga tentang yang selama ini dilakukan klien



3.    Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di RS didalam keluarga atau masyarakat
Keluarga dapat membantu klien beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya
1.    Motivasi keluarga untuk menerima klien apa adanya
2.    Libatkan klien dalam diskusi keluarga

1.   Meningkatkan harga diri klien


2.   Meningkatkan harga diri klien
1.      Motivasi keluarga untuk menerima klien apa adanya

2.      Libatkan klien dalam diskusi keluarga





4.  Klien dapat berkomunikasi dengan keluarga secara baik
Bina hubungan saling percaya dank lien ramah memberitahukan pada klien yang dibutuhkan oleh keluarga
Ungkapkan perasaan klien pada perawat sebagai bukti bahwa klien mempunyai dirinya sendiri
Perawat mendengar-kan keluhan klien tentang kurang harmonisnya klien
Ungkapkan perasaan klien pada perawat sebagai bukti bahwa klien mempunyai dirinya sendiri
S : Klien bersih
O : Klien tersenyum
A : Tujuan khusus tercapai
P : Pertahankan tujuan khusus



Jam/Tanggal
Tujuan
Implementasi
Evalusi

DX II
TUK IV
1.      Membantu klien merumuskan tujuan yang ingin dicapai
2.      Mendiskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan keinginan klien
3.      Memberikan kesemaptan untuk klien melakukan kegiatan yang telah dipilinya
S : Klien mampu mengutarakan keinginanya
O : Klien ingin berjumpa dengan ibunya
A : Masalah teratasi sebagian
P : Rencana keperawatan dilanjutkan

DX. III
TUK IV
1.      Mengkaji ulang kemampuan klien dalam perawatan diri
2.      Membimbing klien dan memberi pujian
S : Klien mampu menyatakan kebersihan diri
O : Klien tersenyum
A : Tujuan khusus sempat tercapai dimana klien sudah mau melakukan kebersihan dirinya secara bertahap

DX. IV
TUK I
1.        Membina hubungan saling percaya keluarga dan anggota keluarga
2.        Mendiskusikan dengan keluarga tentang alternative koping adaptif
S : Sumber koping ditemukan
O : Keluarga mengatakan akan sering berkunjung
A : Keluarga akan melakukan perawatan seoptimal mungkin guna mengindah terjadinya menarik diri
P : Intervensi dilanjutkan

TUK IV
Mengungkapkan perasaan klien pada perawat sebagai bukti bahwa klien mempercayai dirinya
S : Klien menyatakan senang berbicara dengan perawat dan mengatakan bahwa ia ingin sekali bertemu dengan ibunya dan keluarganya
O : Klien sudah mau menceritakan keluh kesahnya
A : Masalah sebagian teratasi
P : Pertahankan Intervensi

DX 1
TUK I
1.     Membina hubungan saling percaya
-       Memberi salam perkenalan diir
-       Menjelaskan tujuan interaksi
-       Menciptakan lingkungan yang tenang
2.     Mendorong dan member kesempatan untuk mengungkapkan persaan klien
3.     Mendengarkan klien dan empati
S : Klien sudah mampu berinteraksi
O : Klien tampak tersenyum ramah
A : Masalah teratasi sebagian

TUK II
1.    Mengkaji pengetahuan klien tentang perihal meraih diri
2.    Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya penyebab menarik diri
3.    Mendiskusikan bersama klien tentang perihal menarik diri
4.    Memberi pujian terhadap keamanan klien mengungkapkan perasaannya
S : Klien sudah mampu mengungkapkan perasaannya
O : Klien tampak tenang, ramah
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan

TUK III
1.    Mendorong klien untuk menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain
2.    Mendorong dan membantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap
3.    Melibatkan klien dalam kegiatan ALDL dirunagan
4.    Mereforcement positif atas keberhasilan yang dicapai
S : Klien mampu menyatakan manfaat bergaul
O : Klien tampak tersenyum, kontak mata baik
A : Klien ammpu mengungkapkan manfaat bergaul dengan orang lain

IMPLEMENTASI
Diagnosa        : Perilaku Isolasi Sosial : Menarik Diri
Strategi Pertemuan 1
Tanggal
Fase Orientasi
P       :    Selamat Pagi Pak, saya akan merawat bapak selama 1 minggu ini. Nama bapak siapa?
              Senang dipanggil apa?
K       :    Nama saya DM, senang dipanggil DM
P       :    Bagimana perasaan Bapak?
K       :    Perasaan saya biasa
P       :    Baiklah, bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang keluhan Bapak. Apakah bapak bersedia? Dan dimana bapak mau?
K       :    Besok aja sus, diruang tamu
P       :    Ya, besok pak. bapak bersedia jam berapa?
K       :    Habis makan sus, berapa lama sus?
P       :    Baiklah 10 – 15 menit, bapak mau ?
K       :    Baik

Fase Kerja
P       :    Bapak DM, coba bapak ceritakan tentang keluhan bapak
K       :    Iya sus ..saya selalu merasa tidak berguna lagi sus ….
              Hal ini membuat saya tidak aman berada dengan orang lain
P       :    Apakah bapak mempunyai teman-teman dekat?
K       :    Tidak, saya malu karena teman-teman saya semua melanjutkan sekolahnya, sementara saya tidak bisa melanjutkan, bahkan sekarang saya sudah di bilang orang punya penyakit jiwa.
P       :    Pak … itu semua perasaan bapak saja. Seharusnya bapak bertekad untuk melawan perasaan malu bapak itu
K       :    Bagaimana caranya sus …?
P       :    Baiklah, besok kita akan diskusi tentang masalah bapak
K       :    Baik sus

Fase Terminasi
P       :    Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya?
K       :    Senang sus
P       :    Baiklah besok kita jumpai disini lagi ya. Apakah bapak bersedia ?
K       :    Bersedia sus

Strategi Pertemuan 2
Tanggal
Fase Orientasi
P       :    Pagi bapak
K       :    Pagi juga suster
P       :    Masih ingat dengan saya kan?
K       :    Ya … suster
P       :    Bagus sekali, sesuai dengan janji kita, hari ini kita akan diskusi tentang apa yang membuat bapak tidak mau bergaul dengan pasien lain atau orang lain dan keuntungan mempunyai teman dan kerugian bila tidak mempunyai teman, mau berapa lama pak? Disini aja ya pak?
K       :    5 – 10 menit ya sus
              Baik, disini aja sus.

Fase Kerja
P       :    Menurut bapak, apa saja keuntungan kalau kita mempunyai teman?
K       :    Ada teman bercakap-cakap
P       :    Benar…
              Apa lagi ?
K       :    Ada yang bantu kita, bercanda-canda
P       :    Nah, kalau kerugiannya tidak mempunyai teman apa lagi ya?
K       :    Kesepian sus, nggak ada teman bercakap-cakap, jadi suka melamun
P       :    Jadi, banyak juga ruginya tidak punya teman ya …
              Kalau gitu inginkah bapak belajar bergaul dengan orang lain ?
K       :    Mau sus …

Fase Terminasi
P       :    Bagaimana perasaan bapak selama kita diskusi?
K       :    Senang sekali sus…
P       :    Bagaimana perasaan bapak setelah tahu untungnya bergaul dan ruginya tidak mempunyai teman?
K       :    Saya jadi ingin bergaul sus ….
P       :    Baiklah, bagaimana kalau besok pagi jam 10.00 kita ketemu dan akan bicarakan dan akan bicarakan cara bergaul dengan orang lain?
K       :    Baiklah sus …
P       :    Sampai jumpa besok ..

Strategi Pertemuan 3
Tanggal
Fase Orientasi
P       :    Selamat pagi pak DM? Bagaimana perasaan bapak hari ini?
K       :    Pagi juga sus, hari ini saya lebih tenang
P       :    Hari ini kita akan belajar tentang bagaimana memulai hubungan dengan orang lain. Kita akan belajar berapa lama?
K       :    10 menit saja ya sus …
P       :    Mau dimana pak?
K       :    Disini saja sus …

Fase Kerja
P       :    Begini lho pak, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dahulu nama kita dan nama panggilan yang kita sukai. Coba lakukan ..!
K       :    Nama saya DM saya lebih senang dipanggil DM
P       :    Bagus, selanjutnya bapak tanya kembali nama orang yang diajak berkenalan.
              Contoh : Nama kamu siapa? Senang dipanggil apa ?
K       :    Nama kamu siapa?
              Senang dipanggil apa?
P       :    Bagus …
              Setelah bapak berkenalan dengan orang lain, bapak bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan

Fase Terminasi
P       :    Bagaimana perasaan bapak setelah latihan berkenalan ini?
K       :    Saya senang, dan bisa lebih tahu …
P       :    Dalam seminggu ini, coba bapak praktekkan. Besok saya akan datang kembali untuk berbincang-bincang tentang pengalaman bapak berkenalan dengan teman-teman yang lain!
K       :    Baik sus …
P       :    Waktunya seperti sekarangnya, dan tempatnya juga disini, bapak setujukan?
K       :    Setuju sus …



Strategi Pertemuan 4
Tanggal
Fase Orientasi
P       :    Pagi bapak …
K       :    Pagi sus…
P       :    Bagaimana perasaan bapak hari ini?
K       :    Saya lebih tenang sus
P       :    Baiklah seperti yang dijanjikan semalam, kita akan berbincang-bincang tentang pengalaman bapak berkenalan dengan teman yang baru ..
K       :    Baik sus

Fase Kerja
P       :    Apakah bapak sudah mempraktekkan yang kita diskusikan kemarin?
K       :    Sudah sus
P       :    Bagaimana cara berkenalannya?
K       :    Nama saya DM, saya senang dipanggil DM
              Nama kamu siapa?, senang dipanggil apa?
P       :    Bagus, bapak sudah bisa
K       :    Terima kasih suster …
P       :    Ini adalah tahap awal bapak praktekkan cara berkenalan dengan orang lain. Tahap berikutnya bapak cerita-cerita saja tentang pengalaman bapak dengan teman baru bapak itu
K       :    Baik sus …
Fase Terminasi
P       :    Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya tadi?
K       :    Saya senang sus …
P       :    Apa yang selanjutnya kita lakukan setelah berkenalan ?
K       :    Cerita tentang pengalaman dan hal-hal yang menyenangkan
P       :    Bagus …
              Cerita ini tetap dipraktekkan ya pak.
              Besok akan saya tanyakan kembali
K       :    Baik sus ….






BAB III
PEMBAHASAN

            Setelah menyimpulkan diagnose klien dengan kerusakan interaksi sosial menarik diri di ruang Bukit Barisan di RS Jiwa Medan, maka penulis mendapat gambaran bahwa tindakan kasus yang menunjang penulis untuk menguraikan kasus ini.
Dalam memberi asuhan keperawatan pada klien dengan kerusakan interaksi social menarik diri. Selain penulis mengetahui perilaku dan kebutuhan pasien yang meliputi fisik sosial dan spiritual, tanpa mengesampingkan diagnosa medic.
Dalam melakukan asuhan keperawatan dapat dilakukan metode pendekatan dalam memecahkan masalah, yaitu : pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
A.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Selama tahap pengkajian penulis menemukan beberapa kendala yang mengakibatkan kurang akuratnya data yang diperoleh dimana klien kurang mau mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Sebagai upaya pencegahan, penulis tetap mengadakan pendekatan pada klien serta melihat dari status klien dan bertanya pada perawat ruangan, sehingga klienmau mengungkapkan perasaannya, mengenal lawan bicara dan dapat membina hubungan saling percaya.

B.       Diagnosa Keperawatan
Kemampuan perawat yang diperlukan dalam merumuskan diagnose adalah kemampuan pengambilan keputusan yang logis tentang batasan adaptif dan kegiatan normal. Kegatan atau perilaku perawat yang dibutuhkan dalam merumuskan diagnose adalah mengidentifikasikan pola data. Kebutuhan atau masalah klien, menvalidasi atau menyusun masalah klien, membuat pohon masalah, merumuskan diagnose dan menyusun prioritas diagnose keperawatan.
Beberapa diagnose yang ditemukan pada teori dengan kerusakan interaksi social menarik diri adalah :
1.    Isolasi social menarik diri
2.    Harga diri rendah
3.    Koping individu inefektif
4.    Gangguan komunikasi verbal
5.    Intoleransi aktivitas
6.    Defisit perawatan diri
7.    Resiko tinggi kekerasan
8.    Perubahan sensori persepsi
Sedangkan bebrapa diagnose yang ditemukan pada kasus dengan kerusakan interaksi social menarik diri, adalah :
1.        Kerusakan komunikasi verbal b/d gangguan konsep menarik diri
2.         Kerusakan interaksi social menarik diri b/d gangguan konsep diri, harga diri rendah
3.        Defist perawatan diri b/d intoleransi aktivitas.
Diagnosa keperawatan yang terdapat pada teori, tetapi tidak terdapat pada kasus yaitu resiko tinggi – kekerasan. Hal ini disebabkan oleh keadaan klien yang selalu berdiam diri, sehingga tidak tampak tanda-tanda klien akan menunjukkan reaksi kekerasan

C.       Perencanaan
Rencana keperawatan terdiri dari 3 aspek yaitu : tujuan umum, tujuan khusus, dan tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian etiologi. Rencana tindakan disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan jiwa Indonesia. Membagi karakteristik tindakan berupa tindakan konseling, pendidikan kesehatan, perawatan berkelanjutan, tindakan kolaborasi. Pada tahap ini tinjauan kasus dan tinjauan teoritis tidak jauh beda dalam menentukanrencana.
  
D.      Implementasi Keperawatan
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan perawat perlu memvalidasi dengan tepat apakah rencana masih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien saat ini. Dalam tahap ini penulis menerapkan hal-hal melalui tindakan keperawatan muncul dari diri klien sendiri. Dimana klien kurang mau berinteraksi dengan klien lain, berdiam diri dan tenggelam dalam lamunan karena klien lebih sering meyendiri.
Adapun usaha pemecahan yang dilakukan adalah dengan cara pemebrian perhatian pada klien, memberikan pengertian dan pengarahan pada klien dengan cara mengikutsertakan klien dengan segala aktifitas. Mengajak klien berbincang-bincang dengan penulis ataupun dengan klien lainnya, dan klien kembali keduania nyata serta melakukan tindakan disiplin demi kemajuan klien sendiri.
 
E.       Evaluasi
Evaluasi merupakan ukuran keberhasilan rencana keperawatan memenuhi kebutuhan klien, evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan SOAP sebagai pola piker :
S       :    Respon subjektif klien terhadap tindakan yang dilakukan
O       :    Respon objektif klien terhadap tindakan yang dilakukan
A       :    Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk mengumpulkan apakah masalah masih tetap untuk mengumpulkan atau muncul masalah baru atau data yang kontradiksi dengan masalah yang ada
P       :    Perencanaan dan tindakan lanjutan yang berdasarkan hasil analisa pada respon klien.
            Hasil yang dicapai selama penerapan asuhan kepewaratan dapat
            teratasi sebagian.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Perencanaan tindakan keperawatan pada klien dengan kerusakan interaksi social menarik diri dititik beratkan pada perawatan mental, social dan spiritual. Pada spiritual perlu dilibatkan orang lain terutama keluarga untuk membantu memotivasi agar klien lebih kuat menghadapi permasalahannya, ini dapat untuk mempercepat proses penyembuhan klien. Dalam pelaksanaan keperawatan peran serta klien dan keluarga sangat mendukung dan mempengaruhi proses penyembuhan klien. Faktor pendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah kerjasama dengan keluarga bantuan dan bimbingan dari petugas rumah sakit
 
B.       Saran
a.    Agar tujuan tercapai maka diperlukan adanya kerjsama antara team kesehatan yang ada sehingga asuhan keperawatan dapat terlaksanakan dengan baik
b.    Diharapkan pada petugas RS. Agar lebih memberikan perhatian khusus serta bimbingan kearah yang lebih positif
c.    Kepada klien sudah diperbolehkan pulang hendaknya menganjurkan kepada keluarganya dan klien sendiri agar dapat mengontrol kembali keadaanya.

d.   Hendaknya keluarga klien agar sering berkunjung supaya klien merasa dirinya masih dibutuhkan
e.    Hendaknya masyarakat dapat menerima kehadiran penderita dan menghargai hak-hak manusia.


DAFTAR PUSTAKA


Keliat, Budi Anna, dkk, 1999. Proses Keperawatan Jiwa”. Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Ria Utami Panjaitan, S.Kep. Novi Helena, cd.S.Kep, 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Gail Wisang Stuart, Phd Ria, sc. Rag, 1999. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 1 penerbit buku kedokteran, EGC : Jakarta.

Hamid Achir Yani, S.Drs, 1996. Standart Asuhan Keperawatan Jiwa. Penerbit Direktorat Kesehatan Jiwa, Bandung.






                                                                                          


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar